Kamis, 06 Januari 2011

Koreksi Paradigma Investasi

Anda saat ini punya tabungan uang, bisa di celengan maupun di bank. Anda merasa bahwa tabungan itu sudah lebih dari cukup untuk berjaga-jaga dari keperluan konsumtif non rutin dalam waktu dekat. Sebenarnya masih ada keperluan konsumtif lain di masa depan, tapi masih butuh waktu lama untuk mengumpulkan tabungan hingga mampu membelinya, seperti keperluan naik haji dan beli rumah.

Anda pun berpikir bahwa sayang jika uang di tabungan dibiarkan menganggur. Apalagi anda tahu bahwa harga-harga cenderung terus naik tiap waktu, sehingga semakin lama semakin sedikit barang yang bisa dibeli oleh uang di tabungan itu.

Maka anda mulai mempertimbangkan untuk menginvestasikan uang anda. Tentu saja anda tahu bahwa ketika diinvestasikan, maka uang itu tidak lagi tersedia sewaktu-waktu ketika dibutuhkan. Benarkah seperti itu? Tidak juga, karena ada pilihan investasi yang likuid, dimana anda bisa mendapatkan kembali uang anda sewaktu-waktu. Contoh investasi yang likuid ini adalah deposito, saham, obligasi, dan emas. Jika uang dibelikan tanah atau dijadikan modal usaha, maka anda akan sulit mendapatkan kembali uang anda sewaktu-waktu. Demikian biasanya yang diajarkan dalam perencanaan keuangan keluarga.

Dihadapkan pada pilihan ini, sebagian besar orang yang hanya memiliki tabungan pas-pasan cenderung tidak memilih investasi yang tidak likuid. Dalam membeli investasi yang likuid, orang berusaha agar pokok uang yang diinvestasikan bisa kembali minimal utuh, dan harapannya ada kelebihan baik dari pembagian keuntungan, bunga, maupun kenaikan harga.

Pola pikir di atas keliru dalam memandang hakikat investasi.Investasi sebenarnya adalah membelanjakan uang menjadi barang, sama dengan konsumsi. Perbedaan investasi dengan konsumsi adalah barang yang dibeli diharapkan akan mendatangkan uang lagi dalam bentuk keuntungan usaha. Karenanya, keliru jika mengharapkan uang yang diinvestasikan bisa diambil sewaktu-waktu untuk konsumsi.

Ketika uang sudah ditukar dengan barang konsumsi maupun barang modal, maka cara satu-satunya untuk menjadikannya uang lagi adalah dengan menjualnya. Karena barang yang dijual tersebut sudah tidak baru lagi, wajar jika uang yang didapatkan tidak sebanyak uang yang dibelanjakan untuk membeli barang tersebut. Namun hal ini tidak bisa dianggap sebagai kerugian, karena barang tersebut telah memberikan manfaat konsumtif dan atau produktif pada pemiliknya sejak pembelian.

Jika konsumsi dan investasi dalam bentuk jasa, maka hasil belanja itu tidak bisa dijual lagi. Jika jasa itu merupakan investasi pengetahuan dan ketrampilan, maka hasil investasi akan berupa tambahan pendapatan karena produktivitas juga meningkat.

Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan investasi semestinya orang tidak mengharapkan uangnya bisa kembali utuh dalam satu waktu. Total uang hasil dari investasi bisa melebihi total uang yang diinvestasikan, tapi uang tersebut didapatkan secara bertahap sepanjang umur modal.

Dan tetap perlu diingat, bahwa investasi bisa juga merugi dalam arti total uang hasil investasi kurang dari uang yang dibelanjakan. Akan tetapi, selama kemungkinan rugi itu lebih kecil daripada kemungkinan untung, maka sebagai mahluk rasional kita tidak semestinya menghindari investasi tersebut. Lagipula dalam investasi di sektor riil, selalu ada cara untuk meminimumkan risiko kerugian.

Jadi ketika anda mempertimbangkan investasi, anda masih bisa membeli kebutuhan anda di masa depan dari akumulasi uang yang datang dari pendapatan yang meningkat hasil dari investasi.

Sebagai gambaran, misalkan pada awalnya pendapatan anda sebesar Rp 2 juta/bulan, dan anda telah memiliki tabungan Rp 20 juta. Lalu anda memutuskan menginvestasikan separuh tabungan. Uang investasi Rp 10 juta itu tentunya tidak langsung habis, karena pembelian barang modal dalam persiapan usaha juga tidak dilakukan sekaligus.

Katakanlah tiga bulan kemudian baru usaha mulai berjalan. Dari Rp 10 juta, yang dibelanjakan untuk peralatan usaha hanya Rp 8 juta, sementara sisanya menjadi kas operasional. Baru setelah itu, mulai ada pemasukan. Awal-awal pengeluaran lebih besar dari pemasukan, sehingga sediaan kas justru berkurang. Baru pada bulan keempat keuntungan bisa didapatkan.

Setelah memperoleh untung, maka tergantung keputusan anda apakah keuntungan itu akan langsung diambil untuk menambah pendapatan anda sebagai pemodal, atau ditahan dulu di perusahaan untuk menambah peralatan dan barang dagang. Jika modal ditambah, maka harapannya keuntungan berikutnya akan semakin bertambah.

Katakanlah anda langsung mengambil keuntungan itu sebagai pemasukan rumah tangga. Keuntungan bersih per bulan rata-rata Rp 500 ribu. Sehingga mulai bulan keempat sejak pendirian usah, total pendapatan anda menjadi Rp 2,5 juta dari semula Rp 2 juta.

Maka pada akhir tahun kedua setelah mulai untung, total hasil investasi sudah mencapai Rp 10,5 juta, yakni lebih Rp 500 ribu juta dari uang yang diinvestasikan semula. Jika umur barang modal ini mencapai 5 tahun, maka total hasil investasi adalah 28,5 juta. Investasi anda secara total menghasilkan hampir 3x lipat.

Jika keperluan jangka panjang anda baru tiba waktu setelah investasi memberikan hasil yang sepadan (break even point-BEP), yakni setelah tahun ketiga pada simulasi di atas, maka keputusan anda untuk menginvestasikan tabungan anda sudah tepat. Risiko sebenarnya dari investasi tabungan adalah jika anda sudah membutuhkan seluruh tabungan tersebut sebelum BEP. Namun jika anda masih terus menabungkan sebagian penghasilan anda, misal Rp 500 ribu sebulan, ditambah dengan tambahan tabungan dari keuntungan usaha, maka dalam waktu kurang lebih satu tahun saja tabungan anda sudah kembali seperti semula.

Sekarang bandingkan dengan skenario jika anda terus bekerja dan menabung tanpa ada tabungan yang diinvestasikan.

20 juta + (b x 0,5 juta) = 10 juta + [(b-3) x 1 juta]
b juta - 3 juta - 0,5 b juta = 20 juta - 10 juta
0,5 b juta = 13 juta
b = 26 bulan = 2 tahun 4 bulan

Jadi, skenario investasi akan mencapai nilai tabungan yang sama dengan skenario tanpa investasi pada tahun kedua bulan keempat, yakni senilai

20 + (26 x 0,5 juta) = 20 + 13 juta = 33 juta

Setelah itu, tabungan dalam skenario investasi mengalami pertambahan lebih besar 500 ribu dari skenario tidak investasi. Selisih 500 ribu itu datang dari hasil investasi. Jadi setelah BEP, anda akan hanya butuh waktu separuh dari waktu yang diperlukan untuk mencapai nilai tabungan tertentu dibanding jika tidak melakukan investasi.

Kesimpulannya, berinvestasilah dengan mengharapkan tambahan pendapatan, bukan pengembalian modal.

1 komentar:

ronym mengatakan...

Setidaknya ada 4 model investasi
1. Tradeable Investment
Investasi berupa barang dagangan
Konsepnya sederhana...
Beli...
Kemudian jual...
( dengan tambahan laba )

2. Passive income
Caranya dengan membeli rumah, ruko, apartemen, sawah, kebun, dll... kemudian menyewakannya
( disatu sisi kita mendapatkan penghasilan dari sewa... disisa lain nilai tanah / bangunan meningkat... jadi dobel manfaat )

3. Capital Gain
Ini terjadi pada emas, perak, saham, dll
Artinya kita mengharapkan ada modal ( uang )... yang kembali kepada kita...
Bukan sebagian saja... tapi keseluruhan... plus ada kelebihan jika bisa

( contoh yang paling mudah... adalah membeli emas / perak berupa koin / batangan... untuk tabungan kebutuhan keluarga... atau untuk masa depan / pensiun )

4. Asset Multiplier
Rasulullah punya contoh yang baik mengenai asset jenis ini.
Ya benar... apalagi kalau bukan binatang ternak / tumbuhan.
Karena salah satu ciri dari mereka... disamping tumbuh ( menjadi besar ), juga beranak pinak

itu artinya nilai asset kita bertambah besar...
sekaligus berlipat ganda

( namun sekali lagi... dengan izin Allah )